PLTU Cirebon Berpotensi Hemat BBM

CIREBON–Mega projek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Cirebon di Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon akan diresmikan Menteri Energi dan Sumber Dayaa Mineral (ESDM), Jero Wacik, Kamis (18/10).

Dioperasikannya PLTU yang dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP)/listrik swasta oleh konsorsium Indika Energy Tbk asal Indonesia, Marubeni Corpotartion-Jepang, Korea Midland Power Company dan Samtan Co. Ltd tersebut mampu memasok 660 Mega Watt (MW) ke PLN jaringan Jawa-Bali selama 30 tahun ke depan.

“Keberadaan listrik swasta yang menelan investasi 850 juta dollar Amerika ini sudah memberikan lapangan kerja pada saat konstruksi yang mencapai lebih dari 2000 tenaga kerja maupun pada saat sekarang setelah beroperasi yang mengutamakan tenaga kerja dari sekitar PLTU. Lebih jauh, PLTU diharapkan dapat menumbuhkan industri di Cirebon,” kata Edi Junaedi Danu, Wakil Presiden Direktur PT. Cirebon Elektric Power (CEP) yang juga Direktur Utama PT. Indika Energy Tbk kepada wartawan di area projek PLTU, Rabu (17/10).

Diakui Edi, PLTU Cirebon secara nyata akan meningkatkan kendala sistem kelistrikan Jawa-Bali dan akan menambah pasokan listrik sampai sebesar 5.500 GWh setiap tahunnya hingga dapat meningkatkan keyakinan investor untuk menanamkan investasinya lebih banyak di Jawa-Bali yang pada gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan industri dan ekonomi daerah.

Disebutkan, PLTU Cirebon dibangun di atas lahan seluas 150 hektare. Dari sisi teknologi, projek ini juga merupakan pioner dalam penggunaan supercritial boiler technology yang mengolah batubara kalori rendah yang banyak tersebar di Indonesia secara efisien.

Bahkan, hasil test dari pihak independen menunjukkan bahwa emisi gas buang yang dihasilkan PLTU Cirebon jauh di bawah ambang batas.

Wakil Presdir PT. CEP tersebut mengklaim, deioperasikannya PLTU Cirebon banyak hal yang positif. Di antaranya untuk meningkatkan daya yang selama ini dihadapi PLN, meningkatkan tegangan transmisi, karena, semakin jauh dari pusat pembangkit, tegangan listrik akan berkurang.

Dengan menggunakan batu bara, PLN bisa menghemat BBM. “Kita bisa memanfaatkan batu bara kalori rendah sekitar 4.500 kilo kalori/kg. Yang tidak bisa diekspor, ini sangat penting untuk ketahanan energi,” kata Edi Danu.

Dia menambahkan, sesuai tender, projek PLTU seharusnya bisa diselesaikan sampai dengan Maret 2013, namun, dalam kenyataannya, bisa delapan bulan lebih cepat dari rencana semula. Bahkan, sudah sejak 27 Juli 2012 lalu sudah selesai dan mampu memasok listrik ke PLN Sunyaragi Kota Cirebon dan Brebes, Jateng.

Diakatakan, PLTU Cirebon juga merupakan pembangkit pertama di Indonesia yang menggunakan sistem pendingin untuk boiler dengan menggunakan cooling tower sehingga sisa air pendingin yang dibuang ke laut tidak berbeda temperaturnya dengan temperatur laut. Sistem sirkulasi air yang jauh lebih ramah lingkungan.

Untuk unloading batu bara, PLTU dilengkapi dengan jetty sepanjang 2 KM, dua unloading crane dan conveyer yang mampu mengangkat batu bara sampai 1.300 ton per jam.

Setelah beroperasi PLTU Cirebon akan memerlukan pasokan batubara kalori rendah sekitar sebesar 2,8 juta ton per tahun. Dengan konsumsi batubara sebesar itu, maka akan mengurangi potensi pengurangan penggunaan BBM sebesar 950 juta liter/tahun. “Dengan demikian terdapat potensi penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp. 5,7 triliun per tahun,” katanya.(pro)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: