PSBB: Komunitas Onthel Bermula dari Pasar Loak

Sepeda Onthel, sebuah sepeda tua, karatan, rongsokan bahkan mungkin antik di mata masyarakat Indonesia ini merupakan sepeda yang sangat populer di era tahun 45. Keberadaan sepeda ini di Indonesia disebabkan oleh orang-orang Belanda yang ketika itu menjajah Indonesia, membawa sepeda Onthel ke negara kita. Onthel sangat populer pada masanya, bahkan hingga kini tetap menjadi sepeda favorit di negara kita.

Paguyuban Sapedah Baheula Bandung (PSBB), sebuah komunitas Sepeda Onthel di Bandung yang berdiri pada tahun 2004. Berawal dari 8 orang pencinta sepeda onthel yang sering bertemu di pasar loak di daerah Jatayu, lalu muncul lah keninginan untuk membuat sebuah paguyuban atau komunitas hobi bersepeda onthel. Pada awal tahun 2004, dari hari ke hari semakin banyak masyarakat yang hobi bersepeda Onthel, hingga akhirnya terbentuklah PSBB yang memiliki anggota awal sebanyak 35 orang.

“PSBB itu bermula dari hobi, berkembang menjadi komunitas hingga akhirnya menjadi bagian dari masyarakat dan pemerintah kota Bandung” kata Irwan, Humas dari PSBB yang sayatemui di Car Free Day Merdeka 13 Mei 2012. “Kini kami bukan hanya sekedar komunitas yang hobi bersepeda, tetapi juga banyak terlibat di dunia pariwisata, budaya, pendidikan, sosial dan lingkungan hidup. Tidak hanya bersepeda saja tapi PSBB juga berkontribusi dalam mengkampanyekan bahwa bersepeda itu ramah lingkungan dan meminimalisir polusi di kota Bandung”

Kegiatan

Sejak awal terbentuknya PSBB, Kumpul Bareng merupakan agenda rutin mereka. “Dulunya kita kumpul bareng setiap hari minggu di depan museum Geologi” kata Irwan. Namun karena beberapa hal, “Gak enak sama pedangang, kalau mereka kan cari uang seminggu sekali, sedangkan kita mencari kesenangan. Dan kebetulan waktu itu Car Free Day Dago baru diresmikan, akhirnya kita pindah dan kita menjadi salah satu pengisi acara peresmian CFD Dago” tambahnya. Hingga akhirnya kini tempat berkumpul rutin mereka bertempat di CFD Merdeka karena di CFD Merdeka. “Disini tempatnya lebih luas”, kata Irwan. Setiap hari minggu, anggota PSBB berkumpul untuk bersilaturahmi dan bertukar informasi seputar sepeda Onthel. Irwan menambahkan, “Gak cuma di CFD aja, setiap hari Rabu juga kita ada kumpul untuk membahas program kerja setiap minggunya di sekretariat yang berada di Jalan Ahmad Yani no 286”

Ketika saya mengunjungi PSBB di CFD Merdeka, mereka sedang bersiap-siap untuk konvoi ke PMI untuk melakukan donor darah. “Ini salah satu kegiatan rutin kami di bidang sosial dan ini kali ke 7 kita donor darah, donor darah sendiri diadakan setiap 3 bulan sekali”. Selain di bidang sosial, PSBB juga banyak berkontribusi di bidang pendidikan, mereka sering mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk sharing tentang sepeda Onthel. Selain itu PSBB juga sering berkumpul bersama komunitas sepeda lainnya seperti komunitas sepeda Fixie. “Di bidang pelestarian budaya, para anggota PSBB selalu menggunakan batik pada minggu pertama setiap bulan” tambah Irwan. Mereka sudah berbatik sejak jauh hari sebelum batik ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO. Diluar kewajiban untuk berbatik, PSBB membebaskan para anggotanya untuk berkreasi dengan pakaian yang mereka gunakan untuk bersepeda. “Mau pake baju daerah Jawa, Sunda, atau baju yang menjadi ciri khas mereka, kita membebaskan. Karena anggota kami sendiri berasal dari banyak daerah” kata Irwan

PSBB banyak terlibat di berbagai kegiatan yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Bandung. “Kita pernah berpartisipasi di acara Bandung Blossom, Peringatan Ulang Tahun Jawa Barat ke 66 tahun, dan Parade Budaya memperingati Ulang Tahun Konferensi Asia Afrika” katanya. Ketika acara Ulang Tahun Jawa Barat ke 66, PSBB merupakan satu-satunya komunitas sepeda yang ikut berpartisipasi. PSBB juga merupakan salah satu anggota Sahabat Museum Konferensi Asia Afrka. Disamping itu PSBB pernah membuat acara yang bernama Bandung Lautan Onthel pada tahun 2010. “Waktu itu kami berhasil mengumpulkan 3000 penggemar sepeda Onthel se-Indonesia” tambah Irwan. Dan salah satu kegiatan yang menjadi kenangan bagi PSBB adalah ketika mereka membuat Tumpeng Onthel di acara Pasar Seni ITB. “Kapan lagi kita menyusun 200 sepeda onthel menjadi sebuah tumpeng setinggi 10 meter” tambah Irwan. Ada pula sebuah acara yang bernama Kayuhan Dua Negara bersama Malaysia. “Pada acara ini kami melibatkan Komunitas Sepeda Tua Indonesia untuk mengundang pakar sepeda Onthel dari negara Belanda”. Acara yang berlangsung pada tanggal 3 sampai 6 juni 2011 ini merupakan sebuah acara terbesar yang pernah diadakan oleh PSBB. Irwan pun menambahkan bahwa setiap bulannya PSBB minimal mengadakan 8 kegiatan

Anggota

Anggota PSBB yang tercatat hingga hari minggu, 13 Mei 2012 berjumlah 760 orang. “Hari minggu kemarin kita touring ke Sumedang pake Onthel, kegiatan ini merupakaan salah satu proses untuk pemberian Kartu Tanda Anggota yang baru” tambah Irwan. Namun jumlah ini masih terus akan bertambah, karena setiap harinya banyak yang mendaftar, tidak jarang dari mereka ikut bergabung karena diajak oleh teman mereka yang merupakan anggota PSBB. Menurut Irwan, kisaran umur anggota PSBB didominasi oleh usia produktif yaitu 20 sampai 45 tahun baik laki-laki maupun perempuan. “Disini kami tidak mengenal senioritas, tua muda, kaya miskin. Disini semua anggotanya sudah kami anggap sebagai keluarga besar. Anggota kami yang termuda berumur 8 tahun, sedangkan yang tertua berumur 84 tahun“ tambah Irwan. “Meskipun banyak anggota kami yang sudah berumur diatas 50 tahun sudah tidak bersepeda lagi karena faktor kesehatan, tetapi kami tetap mendukung mereka “ tambahnya.

Untuk mendaftar menjadi anggota PSBB Irwan berkata bahwa tidak ada syarat yang benar-benar khusus. “Kami sih inginnya yang bergabung itu bener-bener yang hobi dengan sepeda Onthel”. Sedangkan untuk administrasi, para anggota diwajibkan untuk membawa fotokopi KTP dan foto serta membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 110.000. “Biaya pendaftaran ini berlaku seumur hidup, sudah termasuk Kartu Tanda Anggota dan Tag atau Identitas untuk sepeda” kata Irwan. Siapapun boleh bergabung dengan PSBB, “Kami tidak membatasi anggota yang ingin bergabung. Apapun merek sepedanya, selama itu sepeda Onthel, dibebaskan untuk bergabung menjadi anggota kami” tambahnya.

Tips & trik

Cara merawat Onthel hampir sama dengan sepeda lain, namun ada beberapa hal yang membutuhkan perlakuan khusus, seperti pada rantai, kita harus lebih sering memberikan pelumas. Frame atau bingkai dari Onthel juga harus sering diolesi dengan minyak kemiri agar tetep bersih. Tekanan angin di ban juga harus sering di cek. Kalau kita ingin membel sepeda Onthel, ada baiknya kita ngobrol-ngobrol dulu dengan orang yang lebih paham. Dan sepeda Onthel yang kita beli harus sesuai dengan kebutuhan kita. (sumber: kompasiana)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: