Sisi Lain Penggemar Domba Adu

Berbeda dengan propinsi lain, ternak domba cukup dominan di Jawa Barat.  Begitu pun ajang “aben” adu ketangkasan domba ini cukup familiar di kalangan rakyat tatar Sunda.

Secara makna kata, istilah “Adu domba”  telah ada sejak zaman kolonial. Politik “adu-domba” (devide et impera) bermakna konotasi ini telah diterapkan pemerintah kolonial sebagai taktik memecah belah bangsa kita.

Tradisi adu domba dalam makna denotasi pun di kalangan masyarakat tatar Pasundan ini masih menuai pro dan kontra.

Bagi kalangan yang keberatan menilai bahwa pentas adu domba ini mengabaikan unsur-unsur kesejahteraan hewan atau peri-kehewanan (animal welfare). Hewan dieksploitasi hanya demi kesenangan semata. Dari adu ketangkasan ini dikhawatirkan “dibumbui” sehingga mengandung unsur judi di dalamnya.

Dibalik komentar miring ini, bagi komunitas pecinta, penikmat maupun pemilik dan peternak yang tergabung dalam Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) memiliki argumentasi lain. Justru dengan pentas adu ketangkasan domba banyak manfaat diperoleh. Silaturahmi dan komunikasi dalam komunitas pecinta selalu terjalin. Bisa jadi ajang ini menjadi acara temu jodoh bagi muda-mudi kecantol di ajang ini. hemm

Kedua, komunitas ini bukan saja bergelut dalam pemeliharaan domba Garut sebagai domba adu, tetapi turut melestarikan  nilai-nilai budaya dan tradisi kesundaan. Hal ini bisa dijumpai dari acara adu ketangkasan domba bernuansa seni dan budaya Sunda, baik tutur sapa, penggunaan kostum pakaian dikenakan (kampret dan iket kepala), maupun ibingan pencak silat dan tembang Sunda mengiringi acara ini. Ketiga, ajang  ruang pamer domba berkualitas unggul meningkatkan harga jual domba Garut; Keempat, arena ini memberi rejeki bagi pedagang sekitar, tukang cukur domba, atau tukang rumput.

Untuk mereduksi unsur eksploitasi hewan, organisasi ini telah memperbaiki peraturan pertandingan dan penilaian sehingga kriteria pemenang tidak ditentukan hingga terkapar atau binasa konstestannya. Tetapi unsur profil penampilan fisik domba pun masuk dalam poin penilaian. Tentunya ini merupakan pesan positif bagi kegiatan budidaya di kalangan peternak. Pesan ini cukup memotivasi untuk melakukan budidaya domba Garut secara optimal. Bila domba jantan biasa beratnya hanya mencapai 40-50 kg, maka domba adu ini memiliki berat 60-80 kg bahkan ada mencapai 100 kg lebih karena menu makannya cukup terjaga. Domba memiliki prestasi bagus, harganya pun meroket.

Adapun unsur judi dikhawatirkan, menurut komentar pemilik yang penulis temui, itu kembali kepada pribadi orangnya. Bukan cuma arena adu domba, kegiatan sepak bola, bulutangkis, atau acara pilkada  bahkan jumlah  roda mobil dari jalur kiri dan kanan pun acapkali dijadikan arena tumpangan bagi orang yang bermental penjudi. Weleh-weleh  …

Sebagai seorang gembala, saya termasuk mendukung, sebab produk ternak dan semangat beternak meningkat.  Tentunya sebuah insentif yang menarik bagi seorang peternak eh gembala… (sumber: kompasiana)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: