Fenomena Lawak Waria Meresahkan

Oleh: Rizki Daraphonna*)

Enam tahunlalu, tepatnya tahun 2009, tayangan lawak yang merepesentasi sosokwaria (wanita pria/bencong) telah dikecam banyak kalangan bahkan oleh pengidap waria sendiri. Tapi nyatanya sekarang   di televisi terus saja marak.

Tayangan lelucon waria sejatinya bukan marak saat ini saja. Sejak sebelum zaman Dono, Kasino, Indro (DKI) mengadegankan sosok waria di televisi sudah biasa terjadi. Bisa jadi ini menghiburs ebagian orang di satu sisi, tapi sangat meresahkan bagi banyak pihak di sisi lainnya.

Banyak pihak yang merasa resah dengan tayangan waria di televisi yang kerap mengadegankan hal-hal yang tak senonoh. Media kita khususnyaTV Trans dan Anteve tiap hari menampilkan tontonan pria pakai baju wanita dan banci-bancian. Mengapa tayangan yang menuruts aya absurd itu selalu bergulir.

Kekhawatiran maraknya tayangan waria ini muncul karena apa yang diadegankan tokoh waria itu rentan ditiru oleh anak-anak.  Apalagi jam tayangnya pas anak-anak masih melek, jadi otomatis mereka pasti menontonnya. Efek pengaruhnya luar biasa meski tidak langsung.

Tayangan publik yang menghadirkan bencong jadi-jadian itu bisa memicu bertambahnya pengidap penyakit social ini seperti marakterjadi di kota-kota. Sebab secara tidak langsung hal itu mengkampanyekan sebuah laku yang bisa jadi dianggap normal di kemudianhari.

Tidak seharusnya penyakit waria dijadikan sebagai humor dan dibuat lelucon di muka umum. Dalam etika HAM saja itu tidak benar. Di dalam Islam telah jelas seorang laki-laki dilarang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Saya sangat resah atas maraknya tayangan lawak yang lebih menonjolkan aspek fisik, kekerasan, dan kalimat-kalimat satir, ketimbang menyajikan tontonan yang menghibur tapi tetap cerdas dan mencerahkan. SemestinyaKomisiPenyiaran Indonesia (KPI) bisa mengambil hati para remaja dan anak-anak dengan menyajikan siaran acara yang berkonteks edukasi tetapi bisa memberikan daya tarik sehingga kejenuhan dalam belajar bisa hilang. Dalam Acara tersebut dapat diulas soal-soal yang berkenaan dengan pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah.

KPI seharusnya bisa lebih tegas melarang, jangan dibiarkan terus-menerus. Karena hal tersebut bisa merusak pola piker seseorang  yang memang sedang bimbang dengan kepribadiannya, remaja-remaja yang sedang mecari jatidiri, terlebih lagi anak-anak. Anak-anak akan lebih cepat bisa meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar.

Namun itu semua juga tak lepas dari pengawasan orang tua yang lebih memahami, sebagai orang tua atau yang lebih mengerti mana yang sebenarnya baik dan tidak, kita harus menuntun adik-adik atau anak-anakk ita agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang tidak kita inginkan. Sehingga mereka dapat menerima hal tersebut sebatas hiburan belaka saja. Dan sebaiknya anak-anak jangan sampai menonton terlalu sering tayangan yang seperti itu.

 *) Mahaiswi Universitas Malikussaleh

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: